Sudah Membantu Tapi Tidak Dibantu

2 menit baca

“Kamu udah sering membantu. Tapi ketika kamu butuh bantuan, enggak ada yang mau membantumu?”

Kita kadang meminta mendapatkan yang sama dengan yang kita berikan.

Kita meminta mendapatkan bantuan karena kita udah sering memberikan bantuan.

Mungkin, rasa sakit karena tidak dibantu, sebenarnya lebih disebabkan oleh ekspektasi kita: “Aku kan sudah sering memberi, jadi seharusnya ada yang memberi ke aku.”

Itu manusiawi.

Tapi kita perlu berhenti sejenak dan mulai menyadari kenyataan diri yang barangkali selama ini takut kita akui:

Kadang kita membantu bukan murni karena welas asih, cinta atau kepedulian, tapi diam-diam ada keinginan untuk merasa dianggap, diterima, diri ini penting, atau berharap suatu hari yang kita berikan itu kembali ke kita.

Masalahnya, hidup ini kan tidak selalu bekerja ibarat transaksi. Ngasih 50 maka tidak selalu akan dapat 50.

Kita mungkin pernah ngasih bantuan ke seseorang, tapi belum tentu dia punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu kita saat kita membutuhkan.

Dan ketika kenyataan tidak sesuai ekspektasi kita, muncullah rasa sakit. Aku sendirian. Aku tidak dianggap. Setelah semua yang kulakukan, ternyata aku hanya mendapatkan ini.

Ketika begitu bisa dicoba, kita lihat 2 hal ini:

Pertama, iya, rasa sakit itu valid.

Kita tidak perlu pura-pura kuat. Tidak perlu juga langsung lari ke jawaban-jawaban spiritual yang seolah menenangkan hati. Memang sedih ketika kita merasa tidak ada yang membantu.

Tapi kedua, jangan bangun identitas sebagai “korban yang sudah paling memberi”.

Karena ego juga licin sekali menunggangi kebaikan untuk identitas: Aku yang paling baik. Aku yang paling banyak berkorban. Akibatnya hidup kita terasa pahit karena kita terus sibuk menghitung.

Nah, sebuah catatan penting.

Pelan-pelan belajar membantu karena itu memang nilai hidupmu, bukan sebagai investasi yang kelak akan kamu dapatkan kembali.

Dan lebih dalam lagi:

Sebaik-baiknya perbuatan baik adalah perbuatan baik yang kamu lakukan tanpa kamu merasa telah berbuat baik.

Di saat yang sama, belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua orang punya kesadaran, kapasitas, keberanian untuk membantu seperti yang kita harapkan.

Dan sangat mungkin ternyata kamu merasa enggak ada yang membantumu ini supaya kamu mengawasi egomu sendiri yang membesarkan dirinya dengan menunggangi kebaikan.

Coba, berbuat baik, tanpa merasa telah berbuat baik.

2 menit baca

Tinggalkan Balasan

Tinggalkan Balasan

Seni Relasi Sehat: Ketika Jarak “Aku” dan “Kamu” Lenyap

Pernahkah ada momen kamu menyadari jarak antara kamu dan orang lain seakan lenyap? Ini bukan soal kamu sedang dekat dengan dia secara fisik. Tapi ini tentang jarak psikis yang benar-benar lenyap. Bisa saat memeluk seseorang yang sangat kamu rindukan, atau saat menatap mata orang yang kamu cintai, atau pun saat kamu dan dia berjauhan secara fisik, tapi sangat berdekatan secara...

Adjie SantosoPutro

SEHAT MENTAL MELALUI KESADARAN

Seorang praktisi kesehatan mental dengan pengalaman lebih dari 10 tahun yang senantiasa berbagi seputar cara pemulihan batin melalui hidup berkesadaran yang mudah dipraktikkan sehari-hari, terutama oleh masyarakat urban yang sibuk, read more.. 

Digital Course

Tidak ada lagi sesi yang bisa ditampilkan.

KOLABORASI & MENGUNDANG