Ada yang nanya saya di comment: “Kenapa sih enggak sejalan sama gagasan “orang harus selalu positive vibes”?”
Jawaban saya: “Setidaknya karena 3 hal:
Pertama: Karena saya sadar, menekan emosi negatif itu enggak memulihkannya. Dan emosi negatif itu ada fungsinya. Menghilangkannya bisa bahaya.
Takut membantu kita mengenali ancaman. Sedih membantu kita memproses kehilangan. Marah memberi sinyal bahwa ada batas yang dilanggar.
Kalo semua emosi negatif dilarang, dianggap salah, harus selalu positive vibes, yang terjadi bukan pemulihan, tapi emotional suppression (penekanan emosi).
Lalu hanya soal waktu, emosi itu akan berusaha nyari cara untuk muncul, biar kita tau emosi itu ada. Bisa berupa emosi meledak sewaktu-waktu atau bisa dalam bentuk sakit fisik.
Susan David di buku Emotional Agility menjelaskan mental yang sehat itu bukan dengan berusaha selalu merasa positif, tapi dari terampil hadir bersama seluruh emosi, tanpa tenggelam dikuasai oleh emosi itu.
Kedua: Positive vibes bisa jadi bentuk pelarian, escaping.
Orang berusaha selalu positive vibes, selalu tertawa gembira, bisa jadi untuk lari menghindari perasaan enggak nyaman, luka batin belum pulih, yang mestinya perlu diakui, disadari.
Contoh: “Aku sudah ikhlas. Aku sudah memaafkan. Dan sebagainya.”
Padahal sebenarnya di dalam dirinya, masih sedih, badannya masih stres.
Bessel van der Kolk di buku The Body Keeps the Score membahas trauma yang enggak diproses tetap tersimpan dalam badan. Trauma enggak hilang hanya karena kita positive vibes.
Ketiga: Kalo di ilmu kesadaran, kita bisa terbebas dari pikiran dan emosi negatif itu bukan dengan menolaknya, tapi dengan menyadari pikiran dan emosi (negatif maupun positif), tanpa mengidentifikasi diri kita dengan pikiran dan emosi itu.
Menyadari hakikat diri sebagai langit kesadaran yang memberi ruang buat semua awan pikiran dan emosi datang dan pergi. Langit enggak terpengaruh sama pikiran dan emosi.
Enggak menggenggam positif, enggak membenci negatif.”
Lalu saya ditanya lagi: “Kalo nggak positive vibes, terus mesti gimana?”
Jawaban saya: “Saya belajar jujur pada apa yang sedang saya rasakan. Belajar jujur pada diri sendiri.
Kalau sedih, belajar menyadari emosi sedih. Kalau marah, belajar menyadari emosi marah. Kalau takut, belajar menyadari emosi takut.
Belajar jadi pengamat, penyaksi.
Justru ketika emosi benar-benar saya sadari tanpa melawannya maupun tenggelam di dalamnya, emosi mulai mengendur surut.
Rasa damai yang lebih dalam, bahagia yang sesungguhnya itu lahir enggak karena kita positive vibes dan memusuhi negatif.
Tapi lahir karena kita mau menerima kenyataan yang sedang kita alami dan kita menyadari hakikat diri, yaitu kesadaran sebagai sang penyaksi semua pikiran, emosi, segala pengalaman.