Patah Hati Meruntuhkan Ego, Membangkitkan Kesadaran

4 menit baca

Putusnya sebuah hubungan seringkali tidak datang layaknya ledakan yang keras. Tidak ada pintu yang dibanting. Tidak ada teriakan. Melainkan kesepian yang aneh hingga menjelma jadi perasaan kosong. Seperti rumah yang masih berdiri, tapi penghuninya sudah lama pergi.

Tidak ada yang benar-benar salah, tapi ada yang terasa hilang. Bukan cuma seseorang, tapi diri sendiri juga terasa hilang. Di saat itulah patah hati di fase sepatah-patahnya.

Seorang teman pernah bercerita ke saya tentang pengalaman patah hatinya:

“Saya bangun pagi itu dengan kebiasaan yang sama: meraih ponsel. Bukan untuk melihat jam, tapi untuk memastikan satu hal: Apakah ada pesan darinya? Ternyata tidak ada.

Dada terasa sesak. Saya masuk ke pikiran. Kalimat terakhir yang dia ucapkan kembali terputar. Nada suaranya. Ekspresi wajahnya. Dan tentu saja, daftar panjang seandainya yang tidak ada ujungnya. Kalau saja waktu itu saya begini. Kalau saja dia tidak begitu.

Sepanjang hari saya mencari pelarian. Media sosial saya gulir, berharap lupa. Tapi setiap foto pasangan lain justru terasa seperti pengingat: semua orang bahagia, kecuali saya.

Sore hari, sedih berubah menjadi marah. Saya menyalahkan dia. Lalu, tentu saja, menyalahkan diri sendiri. Saya melawan kenyataan, seolah semakin keras menyesali masa lalu, maka masa lalu bisa disusun ulang.

Malam datang. Sepi terasa menakutkan. Musik saya putar keras-keras untuk menutupi perasaan kosong yang terlalu perih.

Sebelum tidur, saya membuka ponsel sekali lagi. Tetap sama, tidak ada pesan darinya.

Sepanjang hari saya sibuk mencari dia, tapi akibatnya saya melarikan diri dari diri saya sendiri.”

Yang Hilang Bukan Cuma Orangnya

Ketika hubunganmu dan dia berakhir, yang hilang dalam hidupmu seringkali bukan hanya dia. Lebih dalam dan lebih bikin nyeri justru yang hilang adalah sense of self, gambaranmu tentang diri sendiri, atau bisa disebut identitasmu.

Identitas sebagai: pasangan, kamu dan dia sebagai “kita”, rencana masa depan, gambaran hidup yang terasa aman, menyenangkan.

Ada “kita” yang nggak jadi. Ada rencana yang batal. Ada peran yang selama ini dijalani, tiba-tiba nggak kepake lagi. Pelan-pelan pikiran mulai ribut. *Apa yang salah sama saya?* Atau yang lebih kejam: *kok hidup saya jadi kayak gini?* Kadang yang paling bikin sakit bukan berakhirnya hubungan, tapi soal tenggelam dalam pertanyaan, “Sekarang saya ini siapa, sih?”

Saat hubungan berakhir, ego kehilangan pegangan. Dan ego selalu takut saat kehilangan pegangan. Itulah sebabnya rasanya sakit banget, rasa sakitnya terasa di ranah eksistensial, bukan cuma emosional.

Ego yang Ikut Patah

Berakhirnya hubungan itu jarang cuma soal patah hati. Seringkali ini juga soal ego yang kehilangan pegangan. Ego suka merasa dibutuhkan, dipilih, dianggap penting. Begitu itu hilang, rasanya kayak ada bagian dirimu yang ambruk.

Padahal kalau dilihat lebih dekat, yang terluka bukanlah dirimu di level terdalam, bukanlah hakikat dirimu. Yang terluka itu gambaran dirimu yang selama ini kamu bangun bareng dia.

Dan justru di situlah, kesempatan untuk kesadaran bangkit. Hanya melalu celah hati yang patahlah, cahaya kesadaran akan masuk. Seperti kutipan indah Jalaluddin Rumi:

The wound is the place where the Light enters you.

Cara-Cara Manusia Menghindar

Kalau soal menghindari rasa sakit, manusia itu kreatif.. Ada yang cepat-cepat menjalin hubungan baru, mencari pengganti. Ada yang menyibukkan diri bekerja sampai lupa dengan diri sendiri. Ada juga yang betah berlama-lama di pikiran, mengulang cerita lama tanpa henti. Semua itu terasa seperti usaha buat move on.

Padahal sering kali, itu hanya perlawanan yang tak ada ujungnya. Apa yang dilawan, akan cenderung menetap. Apa yang diterima, pelan-pelan terurai.

Mengurangi Melawan

Titik baliknya datang waktu kamu berhenti ribut sama dirimu sendiri. Bukan dengan berusaha lebih keras, tapi dengan menyadari apapun pikiran dan perasaan yang muncul. Kamu sekadar hadir di sini-kini, just be. Tanpa drama. Tanpa analisa.

Dengan begitu kamu akan sadar: Rasa sakit boleh ada, tapi rasa sakit itu nggak menentukan siapa dirimu. Dia datang lalu pergi, muncul lalu lenyap. Kamu bukan rasa sakit itu. Kamu adalah kesadaran yang menyadari rasa sakit itu.

Kesadaran yang Memulihkan

Kesadaran itu sederhana. Nggak heboh. Nggak ada teknik metode khusus. Sekadar duduk temani apa yang sedang ada, apa yang lagi dirasain.

Jangan hanyut larut dalam rasa sakit.

Jangan buru-buru memulihkan rasa sakit.

Jangan tergesa menjadi “baik-baik saja”.

Berhenti sebentar & akui: “Ya, ini sakit.” Pengakuan jujur justru menghentikan perlawanan yg memperpanjang luka. Saat kamu berhenti melawan rasa sakit, rasa sakit mulai melemah.

Saat muncul apapun pikiran dan perasaan, tanya pelan-pelan ke diri sendiri:

“Bisakah aku menerima & memberi ruang untuk pikiran dan perasaan ini?”

Perhatikan pergeseran kecil:

dari mengecil → meluas,

dari tegang → sedikit lebih longgar.

Tidak perlu berhasil 100%. Sedikit ruang aja sudah cukup.

Patah Hati sebagai Cermin

Patah hati itu jujur. Kadang malah kelewat jujur.

Patah hati sering mengaktifkan apa yang disebut pain-body.

Pain-body adalah: luka batin masa lalu, bisa berupa: dulu pernah merasa ditolak, ketakutan ditinggalkan, emosi yg dulu tak sempat diproses, dsb. Sekarang itu muncul ke permukaan.

Yang penting kamu sadari: Kamu adalah kesadaran yang menyadari rasa sakit itu. Kamu bukanlah rasa sakit itu.

Setiap pikiran mengulang luka, setiap kali ingatan tentang dia muncul, tanyakan pelan ke diri sendiri:

“Apa yang nyata sekarang?”

Bukan kemarin. Bukan kemungkinan masa depan. Tapi sekarang. Di saat ini: kamu bernapas, hidup, sadar hadir di momen saat ini, di sini-kini.

Tentang Cinta yang Lebih Dewasa

Berakhirnya hubungan tidak berarti kamu gagal. Patah hati justru mengantarmu pulang ke hakikat dirimu. Ke sumber cinta yang tidak bergantung pada siapa pun. Cinta yang lahir bukan dari kekurangan, melainkan dari keutuhan.

Jangan menjadikan hubungan itu sebagai sumber identitas.

Hubungan bisa berakhir, tapi hakikat dirimu tidak pernah berakhir, tidak pernah patah. Hakikat dirimu senantiasa ada, utuh.

Hubungan bisa berakhir. Orang bisa pergi. Cerita bisa runtuh.

Tapi kesadaran yang menyadari semua ini… senantiasa ada, tidak pernah pergi. Dan kesadaran itulah hakikat dirimu.

Di Balik Hati yang Terasa Patah

Banyak orang masuk hubungan baru bukan karena cinta, tapi karena takut sendiri.

Namun hubungan yang lahir dari luka akan membawa luka yang sama.

Kesendirian yang diterima jauh lebih sehat daripada hubungan, kebersamaan yang dipakai sebagai pelarian.

Kalau hati sedang patah, tidak apa-apa berhenti sebentar. Hening sejenak… sadari napas.

Di balik semua pikiran yang gaduh dan perasaan yang naik turun, ada sesuatu yang senantiasa utuh, tidak bisa patah dan tidak pernah terluka, yaitu kesadaran, cinta, our true self.

Jadi, pertanyaan yang layak direnungkan adalah:

“Berakhirnya hubungan ini mematahkan hatimu atau sebenarnya meruntuhkan egomu?”

Mental Health, Mindfulness, Psychology, Relationship, Self Improvement
4 menit baca

Tinggalkan Balasan

Tinggalkan Balasan

Self Love Saja Tidak Cukup

Konten-konten tentang self love, kamu ikuti, kamu berusaha self love, tapi jadinya kamu justru jadi self centered, selfish? Di sebuah warung kopi yang sepi pengunjung, dekat jendela, teman saya menatap kosong ke cangkirnya yang tinggal separuh. “Aku capek,” katanya, tanpa perlu ditanya. “Capek kenapa?” tanya saya sambil mengaduk teh panas yang sudah mulai hangat. “Capek terus mikirin gimana caranya biar...

Adjie SantosoPutro

SEHAT MENTAL MELALUI KESADARAN

Seorang praktisi kesehatan mental dengan pengalaman lebih dari 10 tahun yang senantiasa berbagi seputar cara pemulihan batin melalui hidup berkesadaran yang mudah dipraktikkan sehari-hari, terutama oleh masyarakat urban yang sibuk, read more.. 

Digital Course

Tidak ada lagi sesi yang bisa ditampilkan.

KOLABORASI & MENGUNDANG